Dering telfonku membuatku tersadar dari lamunanku. Oh, ternyata dia. Tanpa sadar aku membalas pesan singkatnya. Aku kira akan sangat sulit dekat denganya.
Hal ini dimulai dari, ketika 'aku' dan 'dia' pulang bersama. Dengan menaiki angkutan umum, trans jogja. Berjalan beriringan menuju halte itu. Dengan wajah muram yang ku buat-buat. Aku yakin, wajahku aneh saat itu.
Diiringi perbincangan, yang mungkin bagi kami terasa sedikit canggung. Kau dengan lincahnya melafalkan setiap kata yang kau ucapkan. Mengenai 'dia' dan juga hobimu. Aku tak begitu menanggapinya. Karena aku sendiri, sudah sakit dari awal.
Hingga bungkamku semakin bungkam. Ketika aku mengatakan kata bodoh, yang seharusnya tak kuucapkan. Keheningan semakin menjadi karenya. Ah sudahlah, aku tak begitu memikirkannya.
Sekedar basa-basi pun terucap olehku. Hanya untuk mencairkan suasana yang semakin canggung ini. Meminjam ponselnya untuk menghubungi orangtua. Katakan aku salah! Karena sesungguhnya aku memasukkan nomor palsu didalamnya.
Hingga akhirnya bus yang menjadi tujuanku datang. Kuberanikan diri menatap langsung ke manik matanya. Tatapan tajamnnya itulah yang menjadi ketakutanku. Ketakutan untuk jatuh cinta lagi kepadanya. Kuucapkan selamat tinggal dan berlalu. 'Bye sweetheart' (?)
Pict by : google
Tidak ada komentar:
Posting Komentar